Senin, 03 Juni 2013

Kisah Nyata - Kehidupan Keluarga Seorang Anak Dan Ayah Tanpa Kasih Sayang Dan Perhatian Dari Seorang Ibu Dan Istri

Kisah Nyata - Kehidupan Keluarga Seorang Anak Dan Ayah Tanpa Kasih Sayang Dan Perhatian Dari Seorang Ibu Dan Istri



Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering saya bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah?.



Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang saya rasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.



Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, saya harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya.



Karena masih ada sisa nasi, jadi saya menggoreng telur untuk dia makan.



Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian saya bergegas berangkat ke tempat kerja.



Peran ganda yang saya jalani, membuat energi saya benar-benar terkuras.



Suatu hari ketika saya pulang kerja saya merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas saya memeluk dan mencium anak saya, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.



Namun, ketika saya merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!. Saya membuka selimut dan…, disanalah sumber ‘masalah’nya…, sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan diseprai dan selimut!.



Oh…Tuhan!, saya begitu marah, saya mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan!.



Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat :



“Yah…, tadi saya merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi saya ingin memasak mie instan. Saya ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka saya menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie.



Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena saya takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi saya menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi saya lupa untuk mengingatkan ayah karena saya sedang bermain dengan mainan saya …



Saya minta maaf Yah …



Seketika, air mata mulai mengalir di pipi saya, tetapi saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis, maka saya berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.



Setelah beberapa lama, saya menghampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu saya membujuknya untuk tidur.



Kemudian saya membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.



Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, saya melewati kamar anak saya, dan melihat anak saya masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto Ibu yang dikasihinya.



Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.



Tanpa terasa, anak saya sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.



Namun… belum lama, saya sudah memukul anak saya lagi, saya benar-benar menyesal….



Guru Taman Kanak-kanaknya memanggil saya dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Saya pulang kerumah lebih awal dari kantor, saya berharap dia bisa menjelaskan.



Tapi ia tidak ada dirumah, saya pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Saya marah membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.



Dia diam saja lalu mengatakan, “Saya minta maaf Yah”.



Selang beberapa lama saya selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yang diundang adalah siswa dengan ibunya.



Dan itulah alasan ketidak hadirannya karena ia tidak punya ibu…..



Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anak saya pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.



Sejak saat itu, anak saya lebih banyak mengurung diri dikamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga.



Tentu saja dia membuat saya bangga juga!.



Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan Tahun Baru telah tiba.



Semangat Tahun Baru ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang…



Suara terompet dan bunyi kembang api yg menyala di angkasa terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anak saya membuat masalah lagi..



Ketika saya sedang menyelesaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.



Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.



Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan.



Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Yah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.



Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.



Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?



Apa yang ada dikepalanya?



Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk Ibu…..”.



Tiba-tiba mataku berkaca-kaca…, tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya:



“Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”



Jawaban anakku itu : “Saya telah menulis surat buat Ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali saya mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagi saya, sehingga saya tidak dapat memposkan surat-surat itu.



Tapi baru-baru ini, ketika saya kembali ke kotak pos, saya bisa mencapai kotak itu dan saya mengirimkannya sekaligus”.



Setelah mendengar penjelasannya ini, saya kehilangan kata-kata, saya bingung, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, dan apa yang harus saya katakan ….



Saya bilang pada anak saya, “Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat itu akan sampai kepada ibumu.



Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.



Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.



Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……



‘Ibu sayang’



Saya sangat merindukanmu!, Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.



Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga.



Saya tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena saya takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, saya duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko.



Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukan saya ayah marah, dan saya hanya bisa diam, ayah memukul saya, tetapi saya tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.



Bu…, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua Bu…



Tapi Bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah Ibu muncul dalam mimpi saya sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat?. Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu.



Tapi Bu…, mengapa engkau tak pernah muncul?.



***



Setelah membaca surat itu, saya menangis tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….



Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya.



Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.



Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.



Sahabat BERBAGI CERITA KITA Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.Kisah Nyata - Kehidupan Keluarga Seorang Anak Dan Ayah Tanpa Kasih Sayang Dan Perhatian Dari Seorang Ibu Dan Istri

Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering saya bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah?.

Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan seorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang saya rasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.

Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, saya harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya.

Karena masih ada sisa nasi, jadi saya menggoreng telur untuk dia makan.

Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian saya bergegas berangkat ke tempat kerja.

Peran ganda yang saya jalani, membuat energi saya benar-benar terkuras.

Suatu hari ketika saya pulang kerja saya merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas saya memeluk dan mencium anak saya, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.

Namun, ketika saya merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!. Saya membuka selimut dan…, disanalah sumber ‘masalah’nya…, sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan diseprai dan selimut!.

Oh…Tuhan!, saya begitu marah, saya mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan!.

Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat :

“Yah…, tadi saya merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi saya ingin memasak mie instan. Saya ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka saya menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie.

Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena saya takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi saya menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi saya lupa untuk mengingatkan ayah karena saya sedang bermain dengan mainan saya …

Saya minta maaf Yah …

Seketika, air mata mulai mengalir di pipi saya, tetapi saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis, maka saya berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.

Setelah beberapa lama, saya menghampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu saya membujuknya untuk tidur.

Kemudian saya membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.

Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, saya melewati kamar anak saya, dan melihat anak saya masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto Ibu yang dikasihinya.

Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.

Tanpa terasa, anak saya sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.

Namun… belum lama, saya sudah memukul anak saya lagi, saya benar-benar menyesal….

Guru Taman Kanak-kanaknya memanggil saya dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Saya pulang kerumah lebih awal dari kantor, saya berharap dia bisa menjelaskan.

Tapi ia tidak ada dirumah, saya pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Saya marah membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan.

Dia diam saja lalu mengatakan, “Saya minta maaf Yah”.

Selang beberapa lama saya selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yang diundang adalah siswa dengan ibunya.

Dan itulah alasan ketidak hadirannya karena ia tidak punya ibu…..

Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anak saya pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.

Sejak saat itu, anak saya lebih banyak mengurung diri dikamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga.

Tentu saja dia membuat saya bangga juga!.

Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan Tahun Baru telah tiba.

Semangat Tahun Baru ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang…

Suara terompet dan bunyi kembang api yg menyala di angkasa terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anak saya membuat masalah lagi..

Ketika saya sedang menyelesaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.

Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.

Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan.

Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Yah”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.

Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.

Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?

Apa yang ada dikepalanya?

Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk Ibu…..”.

Tiba-tiba mataku berkaca-kaca…, tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya:

“Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?”

Jawaban anakku itu : “Saya telah menulis surat buat Ibu untuk waktu yang lama, tapi setiap kali saya mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagi saya, sehingga saya tidak dapat memposkan surat-surat itu.

Tapi baru-baru ini, ketika saya kembali ke kotak pos, saya bisa mencapai kotak itu dan saya mengirimkannya sekaligus”.

Setelah mendengar penjelasannya ini, saya kehilangan kata-kata, saya bingung, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, dan apa yang harus saya katakan ….

Saya bilang pada anak saya, “Nak, ibu sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk ibu, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat itu akan sampai kepada ibumu.

Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak.

Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.

Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur……

‘Ibu sayang’

Saya sangat merindukanmu!, Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.

Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga.

Saya tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena saya takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, saya duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko.

Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukan saya ayah marah, dan saya hanya bisa diam, ayah memukul saya, tetapi saya tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.

Bu…, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua Bu…

Tapi Bu, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah Ibu muncul dalam mimpi saya sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat?. Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu.

Tapi Bu…, mengapa engkau tak pernah muncul?.

***

Setelah membaca surat itu, saya menangis tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….

Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya.

Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.

Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.

Sahabat GROUB KITA Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar